Bersama meski beda dalam pilihan

Saat langit berganti, kala kau memiliki satuan hitung. Mukalaf begitu kaidah menyebutnya, dimensi lain menamainya transisi
Kala kau berdiri antara diantara
Kanak dan dewasa..
Tertidur dan terjaga
Bisu dan bising..
Juga pilihan ratusan antara lainnya, yang akan terus mengiringi perjalanan laju detik masamu...
Bahwa air yang mengalir pun faham kemana dia harus mengalirkan alirannya. Lalu sudahkah kita memaknai langkah kaki yang kau tapaki?
Kawan dengan atau tanpa kita sadari, kau telah menggemgam satu pilihan. Pembeda hanya ada dalam cara kita memaknai pilihan yang terambil. Juga pilihan untuk terus memperbaharui pilihan dan atau bertahan dalam pilihan..
Hanya mengapa, masih ada justifikasi invalid atas asumsi dari pihak yang terafiliasi. Bak seperti spam. Selama asumsi yang lahir, tak mengandung paksaan untuk mengikuti pilihan. Mengapa harus berkompetensi tanpa merajut kolaborasi??
Mari bersama menjadi kita meski dalam pilihan yang berbeda,  menata objektif yang kini begitu relatif..
Tidak perlu bijaksana dengan definisi realita yang mengubah diksi menjadi bijak sana dan bijak sini..
Karena itu hanya akan mengaburkan warnamu...
Absurd, bias juga ambigu..
Cukup aku, kamu menjadi kita dengan pilihan masing-masing...

Komentar

Postingan Populer