Cintaku Bersemi di Jalan Dakwah


Menyepi di Kamarku seorang diri membuatku tenggelam dalam memori lamaku,mereply kembali kejadian 8 tahun yang lalu, saat ku duduk di kelas XII, masa-masa terakhirku dalam episode putih abu-abu. Sebuah event yang sedikit demi sedikit mengalihkan duniaku yang dulu. Kala itu entah dorongan apa hingga aku tertarik menghadiri tawaran Azwan sahabatku semenjak kecil, dari SD hingga SMA kami menimba ilmu di Almamater yang sama ,baru terpisahkan saat dia pindah rumah dan melanjutkan studi S1nya di kota Jakarta tempat tinggal barunya.Kembali ke event tadi saat Azwan yang menjadi kepanitian tadi menggiringku untuk mengikuti kegiatan rohis yang sama sekali tak pernah ku ikuti sebelumnya. Azwan yang semenjak SMA  mulai menekuni dunia dakwah memang menunjukkan perbedaan dengan Azwan yang sebelumnya tapi terlepas dari semua itu ia tetaplah sahabat baikku.Sekarang ia memang lebih ber-idealis dan berkarakter, semangatnya pun selalu membahana tapi ia tetap lah seorang Azwan supple yang tak meninggalkan temannya seperti diriku yang berbeda haluan dengannya.
Semenjak SMA, Azwan memang telah pensiun dari pekerjaannya sebagai  “ojek pribadiku” yang semenjak SMP selalu mengantarkanku pulang pergi ke sekolah juga tak ada lagi belajar  atau hanging out bareng tapi  aku tak mempermasalahkan hal itu, bagiku Azwan sebelum dan setelah menjadi ADS adalah tetap sahabatku.Tapi sepertinya aku harus mengakui bahwa ada rasa lain di hatiku tapi mungkin karena seringnya ku mengabaikan rasa itu,kehadirannya pun ku ingkari.Aku beralibi bahwa rasa itu mungkin sebatas rasa sayang kepada seorang sahabat tapi aku mulai menyangsikan ketika ada rasa cemburu ketika Azwan menjadi primadona di sekolahku,adik-adik kelasku banyak yang menggemarinya  hal ini terlihat saat MOS Awards dia menyabet 3 penghargaan sekaligus,kakak tercool,kakak terbaik dan kakak terfavorit dan aku sangat senang ketika fans-fansnya itu di buat gigit jari olehnya karena Azwan sama sekali tak meresponnya dan aku semakin tak bisa menyangkal perasaan itu ketika jarak memisahku dengannya dan menghadirkan rasa rindu.
Aku yang masih asyik di dunia euporiaku tetap berteman baik dengannya, ini terbukti saat dia memaksaku ikut ke event talkshow di sekolahku yang berjudul cintaku bersemi di jalan dakwah,sebuah event yang tak akan terlupakan yang menjadi titik balik perubahan hidupku.Kala itu entah keberanian apa yang membuatku dengan nyantainya menanggapi pertanyaan temanku,masih jelas pertanyaan itu di benakku,”Bagaimanakah dengan gejolak hati setiap aktifis dakwah,karena yang kita pahami mereka berusaha menjaga dengan prinsipnya untuk say no to pacaran tapi dalam lubuk hatinya sebagai manusia biasa pasti fitrah itu akan ada,ketika rasa itu menyapa bisa jadi ada harapan-harapan yang tertanam mulai ingin di perhatikan,mengemas cara pendekatan berlabel dakwah,apakah fenomena ini bisa di sebut sebuah kemunafikan rasa, hati berkata iya tapi mulut berkata tidak?”
Ku tanggapi pertanyaan itu dengan asumsiku yang entah dari mana ku dapat referensinya,aku menilai bahwa setiap aktifis dakwah adalah manusia biasa yang tak lepas dari perasaan itu dan tentu hal itu adalah sebuah kewajaran dan wajar pula gejolak hati itu ada tinggal bagaimana mereka mengendalikannya sesuai dengan apa yang mereka pegang,kalaupun ada kasus seperti tadi iya setidaknya hal itu tidak lepih parah dengan mereka yang pacaran tanpa mengindahkan rambu-rambu yang ada,dan bukan berarti saya membenarkan ketika ada kasus itu hanya saja kita tak menjadi apatis hanya karena ada kasus itu lalu menjudge mereka begitu saja”.Dan pasca event itu aku mulai berhijrah  ku putuskan untuk tak melepas jilbab yang baru ku kenakan saat event itu dan semenjak itu pula Azwan memanggilku dengan tepat,Riani yang sebelumnya selalu memanggilku Rian.
^^^
            Bisa merapat dalam barisan dakwah adalah anugrah yang terindah untukku.Keputusanku untuk berhijrah dan tak sekedar menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang adalah keputusan yang tepat.Rian yang tomboy mulai bermetamorfosis menampakkan keanggunannya  meski sifat tomboy itu masih melekat.Menjadi akhwat tomboy,why not??menjadi aktifis dakwah tak berarti kehilangan jati diti tapi justru menyempurnakan jati diri dan salah jika orang memaknai bahwa dengan aturan mematikan ekspresi diri, yang benar adalah aturan ada untuk melindungi kita dan kita pun bebas berekspresi selama berada pada jalur on the track alias tak melanggar syariat.
            Aku mulai menikmati kahidupan baruku,sangat indah berkumpul dengan sahabat yang saling mengingatkan dan menguatkan,bersama mereka dalam ukhuwah itu aku meniti jalan ini.Ketika waktu tunjukkan jalannya,sosok di masa lalu itu kembali datang setelah 4 tahun lamanya tak berjumpa,rupanya dia masih mengingatku sahabat penanya.Awalnya ku pikir kedatangannya beserta keluarganya adalah  adalah kunjungan silaturahmi biasa karena memang keluargaku sudah berhubungan baik dengan keluarganya,maklumlah dulu saat ia tinggal di sini,rumah kami lumayan berdekatan tapi ternyata ada maksud lain dari kedatangannya.Iya dia datang untuk menjemput tulang rusuknya..
^^^
Jangan mencari tapi menjadi,karena  kita tak walaupun kita mencari tapi diri menjadi,Allah tak akan mengizinkan,Namun jika kita menjadi tanpa mencari pun Allah sudah menyiapkan




.


Komentar

Postingan Populer